Skip to main content

SENJA BULAN SEPTEMBER

                                                                                 


 
Satu hari kita akan pergi meninggalkan dunia ini. Meninggalkan semua yang kita miliki di dunia, meninggalkan segala memori yang mengusik, meninggalkan amal yang kita punya?  tentu saja (kalau ada). Lalu pertanyaannya, seberapa banyak amal yang terkumpul?. Malulah kita untuk menakar amal dalam ukuran kuantitas, apalagi kualitas. Ternyata amal-amal kita hanya receh-recehan.

Suatu senja di bulan September, mengingatkanku tentang takaran amal diri. Bahwa ternyata kemaksiatan diri akan mengikis segala amal. Termenung untuk menyadari hari kembali adalah keniscayaan. Masihkah ada waktu? 
 
 
Setidaknya, senyuman itu masih ada.

Comments

Most Popular Posts

Catatan Rindu Sang Pejuang

Catatan rindu sang pejuang kala langkahnya mulai terhenti Dalam setiap perenungan….lelah menjelajah jauh tak bertepi Saat tak ada kekuatan merangkum suatu bentuk narasi Biarkan hati membentuk corak penuh arti Seperti saat pertemuan...dalam alam imajinasi Tanpa celah menuju masa yang amat dinanti Sedangkan mimpi apakah akan datang lagi? Ya, Biarkan mimpi itu datang kembali... ****

Kita Dalam Sebuah Perjalanan

          Ibarat sebuah perjalanan, selain tahu kemana hendak menuju. Selalu ada mata yang menatap lebih tajam dalam melintasi pandangan dihadapan. Ada lengan untuk menapik penghalang, ada langkah yang kadang gontai namun kadang gagah dan mampu berlari mengejar impian. Ada hati yang berdebar kala tak ada petunjuk arah. Hati yang selalu tersentuh kala berjumpa dengan seseorang yang membutuhkan uluran tangan kita. Hati yang merindu kala meninggalkan orang-orang yang dicinta dan tanah yang biasa dipijak. Ada airmata haru dan bahagia menyatu. Semua hal itu akan membuat percepatan maupun perlambatan dalam sebuah perjalanan, dan terangkum penuh makna. Yaa.. Begitulah, sepanjang jalan selalu ada perjumpaan dan perpisahan. Terkadang dalam diam, kita mempelajari satu persatu insan, lalu kita serap banyak pesan. Sudahkah kita menyadari, bahwa  ti dak ada yang sia-sia ketika uluran tangan kita membuat seseorang sumringah, walaupun akan...

HANEDA

Setiba di bandara Haneda, Yuki bergegas menyalakan hp nya, tak sabar untuk memberi kabar sukacita kepada Kato bahwa dirinya selamat sampai tujuan, tanah kelahirannya, Jepang. Tak perlu waktu lama untuk menyadari, bahwa ternyata tak ada lagi akses komunikasi ke Kato. Seketika... dejavu... Yuki mengetahui apa yang telah terjadi. Perpisahan yang dimaksud itu adalah saat ini. Walau rasanya kecupan dikening saat Kato melepas dirinya di bandara soeta masih dalam hitungan menit. Terbenam dalam lamunan, "mungkin banyak kesalahanku, hingga kebahagiaan yang kurasa selama bersamanya hanya pantas sesaat, atau ketidaksanggupannya berhubungan jarak jauh dan menungguku..." tutur Yuki dalam hati. Haneda pagi itu lapang, tak selapang hatinya...."ijinkan aku kembali atau membawamu kesini, mungkin saat ini hanya daun maple warna warni yang berguguran, tapi suatu saat nanti sakura bermekaran"               ...